Sejatinya rumah merupakan tempat yang memuat konsep ‘House dan ‘Home’. Sebagai House rumah adalah tempat berlindung dari gangguan iklim, binatang buas, dan orang-orang jahat. Rumah menjadi tempat beraktivitas dan membangun pertahanan dirinya dari segala hal fisik yang mengganggu kehidupan mereka. Konsep Home menyangkut hal non-fisik, misalnya terciptanya rasa, kegembiraan, kenyamanan, kerinduan, kebanggaan dan lain sebagainya. Sebagai House dan Home rumah menjadi tempat membangun nilai-nilai kemanusiaan diri dan peradaban pada skala dasar.

Kebutuhan Memiliki Rumah Sendiri

Bagi pasangan keluarga muda atau orang yang belum punya rumah, memiliki rumah sendiri biasanya merupakan cita-cita. “Biapun kecil, tapi rumah sendirI “. Begitulah ‘jargon’-nya.

Bila berumah tangga apalagi sudah memiliki anak, ada kepuasan besar memiliki rumah sendiri dibandingkan ngekost, ngontrak atau tinggal di rumah keluarga (orang tua). Di rumah milik sendiri, bisa bebas mengatur rumah, mengelola manajemen keluarga, dan tidak merasa dikejar-kejar batas waktu ‘habis kontrak’.

Jaman sekarang, untuk memiliki rumah sendiri ada beberapa pilihan, misalnya ; Membeli di komplek perumahan, apartemen/rumah susun, membeli rumah ‘kampung’ di suatu permukiman penduduk yang heterogen, atau bisa juga mendirikan rumah di tanah sendiri. Masing-masing pilihan cara itu punya konsekuensi. Ada plus-minusnya yang disesuaikan dengan minat-keinginan dan konsep hidup bermukim si Pasangan rumah tangga.

Secara umum diberbagai daerah baik kota maupun kabupaten ada tiga macam cara memiliki rumah, yakni pertama, membeli (cash/kredit) rumah di komplek perumahan ; kedua, membeli rumah di suatu wilayah permukiman umum; ketiga, membangun sendiri di tanah sendiri yang dibeli atau dari warisan. Sementara untuk konsep hunian apartemen/rumah susun (non landed house) masih dipandang ‘tidak umum’ karena hanya tersedia di kota-kota besar yang lahannya sangat terbatas, padat dan harga tanahnya sangat mahal seperti Jakarta, Surabaya, Pekanbaru, dan lain-lain. Sementara bagi orang daerah, konsep hunian apartemen dan rumah susun masih jarang dan ‘asing’.

Membeli Rumah Komplek Perumahan

Cara ini dinilai paling ‘gampang dan cepat’. Asalkan sudah punya sejumlah uang muka sesuai tipe rumah dan punya penghasilan tetap maka kita sudah bisa mendapatkan rumah tersebut.

Banyak plus-minus memiliki rumah komplek. Baik dalam hal sosial, budaya, keamanan, dan lain sebagainya.

Satu hal yang jarang diungkap soal rumah komplek adalah masalah relativitas ekspresi dan kebutuhan penghuni. Model rumah dan jumlah dan ukuran ruang rumah sama sesuai tipe yang dipilih. Penghuni pun dituntut menyesuaikan diri dengan kondisi rumah tersebut.

Pada rumah komplek ini, setting diri setiap penghuni rumah diabaikan. Semua penghuni dianggap sama. Keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga banyak disamakan dengan yang beranggota sedikit. Keluarga yang berlatar belakang budaya Jawa disamakan dengan yang berlatar belakang Batak, Minang, Bugis, Dayak, Melayu, Tionghoa, dan lain sebagainya. Keluarga seniman musik disamakan dengan pengurus partai anu, pegawai negeri, karyawan swasta, tentara, penjual bakso, tukang bangunan, dan lain sebagainya. Kepala keluarga yang punya hobby memelihara burung disamakan dengan yang berhobi musik Rock, menulis, dan lain sebagainya.

Membangun di Tanah Sendiri

Cara ini relatif lebih ribet. Andai belum punya tanah, maka terlebih dahulu harus mencari tanah kosong. Ini pekerjaan yang tidak mudah. Kadang luasan yang dibutuhkan sudah sesuai kebutuhan, namun lokasinya tidak memenuhi harapan misalnya jauh dari keramaian, terpencil, sulit diakses karena belum ada jalan, menyempil dibelakang permukiman penduduk, dan lain-lain. Belum lagi menyangkut stigma lingkungan sekitar tanah kosong tersebut, misalnya ; kawasan pelacuran, kawasan pencoleng, yang membuat rasa tidak nyaman dan tidak aman.

Bila tanah kosong sudah didapat maka harus menyiapkan pembanguna, mulai dari perencanaan/desain rumah, memilih tukang bangunan (pelaksana), memilih/ membeli bahan material, dan juga pengawasan pembangunan. Walaupun sudah ada ‘kontraktor’ yang melaksanakan pembangunan, namun si Pemilik mau tidak mau harus sering datang mengawasi untuk mengetahui perkembangan, kesesuaian desain, perubahan desain dan material, dan lain sebagainya. Mau tidak mau ada waktu dan tenaga yang harus disisihkan diantara kesibukan utama/bekerja. Seringkali dalam masa pembangunan rumah, si Pemilik dilanda stress karena ikut mengurus dan memikirkannya.

Satu keuntungan membangun sendiri ; rumah dibangun sesuai dengan setting diri yang menyangkut aspirasi, keinginan, kebutuhan, dan kesenangan si Pemilik. Tingkat kepuasan yang dicapai bisa lebih besar karena apa yang dibayangkannya tentang hunian yang nyaman bisa diwujudkan di rumah tersebut.

Memilih cara mendapatkan rumah ditentukan setiap diri pasangan rumah tangga. Mana yang cocok tentunya disesuaikan banyak faktor, misalnya kemampuan dan ketersediaan biaya, kesabaran, lokasi pekerjaan, konsep hidup yang sedang dan akan dijalani, dan lain-lain. Diperlukan visi yang sama dalam pasangan rumah tangga agar pilihan cara tadi menjadikan rumah nyaman dihuni.

Sumber : www.kompasiana.com